HAUL KE 206 SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

HAUL SYEKH MUAHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI ke 206
Dalam rangka memperingati HAUL SYEKH MUAHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI ke 206 Jum,at 6 Syawal 1433 H bertepatan dengan tanggal 24 Agustus 2012, maka alangkah baiknya untuk mengambil barokah kita simak kembali Manaqib atau Riwayat hidup beliau sbb :

Riwayat Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari
جدنا انظر الينا انت تعطى الولاية نور سرك ظاهر قدحظيت المهابه وافتح الباب واذهب ربنا كل فتره بركه سرمن مولانا شيخ أرشد بنجزيه

Diantara ulama Nusantara terkemuka abad ke-18 m yg dikenal kedalaman ilmu dan kecemerlangan karya karyanya adalah syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yg sering kita sebut Datu Kalampayan,beliau lahir pada 15 syafar 1122h/maret 1710 m dikampung lokgabang martapura kalimantan selatan,nama lengkap beliau adalah Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Banjari,terlahir dari seorang ibunda yg sholehah bernama Siti Aminah,ayah beliau yg bernama Abdullah bin Abdurrahman adalah seorang yang zuhud dan alim,beliau tumbuh dan besar dalam suasana keislaman yg kental dibawah pemerintahan kerajaan islam banjar.sejak umur 7 thn beliau sudah fasih dan sempurna dalam membaca Al-Qur’an ,kecerdasannya dalam ilmu agama dan bakat melukisnya menarik perhatian Sultan penguasa kerajaan banjar pada waktu itu,maka Muhammad Arsyad kecil pun diboyong untuk belajar ilmu agama dilingkungan istana bersama keluarga kerajaan,setelah dewasa dan menikah karena kepandaian dan kecerdasan beliau dalam mempelajari ilmu agama maka menjelang usia 30 thn beliau diberangkatkan ketanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama dengan dibiayai oleh kerajaan,karena Sultan berharap dengan ilmu yg dipelajarinya nanti ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan ilmu kepada rakyat banjar dan sekitarnya.
Ditanah suci Mekah dan Madinah ini beliau belajar kepada beberapa ulama terkenal dan wali pada jamannya diantara guru guru beliau adalah
1.Syekh Athaillah bin Ahmad Al-Mihsri Al-Azhari Mekah
2.Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi Madinah (pengarang kitab hawayil madaniyyah)
3.Syekh Muhammad bin Abdul karim As-Semman Al-Madany dalam ilmu tasawuf yang akhirnya beliau mendapatkan ijazah dengan   kedudukan sebagai Khalifah (waakil)
4.Syekh Ahmad bin Abdul Muun’in Ad-Damanhuri
5.Syekh Sayyid Abul Faydh Muhammad Murtadha’ Az-Zabidi
6.Syekh Hasan bin Ahmad ‘Akisy Al-Yamani
7.Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashri
8.Syekh Siddiq bin Umar Khan
9.Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi
10.syekh Abdurrahman bin Abdul Azis Al-Magribi
11.Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal
12.Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fatani
13.Syekh Abdul Ghani bin Muhammad Hilal
14.Syekh Syekh ‘Abid As-Sindi
15.syekh Abdul Wahab Ath-Thanthawi
16.Syekh Maulana Sayyid Abdullah Mirghani
17.Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jawahir
18.Syekh muhammad Zayn bin Faqih Jalaluddin Aceh
ketika beliau di Mekah beliau bersahabat dengan para penuntut ilmu dari tanah air dan merupakan sahabat erat,mereka adalah Syekh Abdul wahab Bugis dari Makasar,Syekh Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus salikin) dan Abdurrahman masri dari Betawi
konon pada waktu beliau berada diMekah,beliau menemui keanehan pada setiap hari jum’ad di Mesjid Al-Haram,ada seseorang yang berpakaian lain dari kebiasaan berpakaian orang arab lainnya,orang tersebut berpakaian hitam dan memakai laung dan memakai butah,pakaian khas dari banjar,setiap habis berdoa orang tersebut selalu menghilang tanpa bekas,dengan rasa penasaran kemudian pada jum’ad berikutnya beliau menunggu kedatangan orang itu tp seperti biasa selesai habis shalat jum’ad dan berdoa orang tsb selalu menghilang,kemudian pada jum’ad yg lainnya ketika orang tersebut datang beliau segera ikut sholat disamping nya dengan harapan dapat berkenalan dengan orang tersebut,ketika selesai berdoa tak ingin kehilangan orang tersebut dengan sigap beliau lalu memegang tangan orang tersebut,”mengapa tuan menangkap tangan saya “kata orang tsb
setelah terlebih dahulu Syekh Muhammad Arsyad minta maaf beliau lalu berkata
“maaf saya ingin bertanya siapakah anda,disini semua orang berpakaian ikhram sedangkan anda tidak berpakaian ikhram’
“maaf hamba berasal dari kampung muning tatakan rantau borneo “jawab orang itu
“mengapa anda setiap hari jum’ad bisa sholat disini’ kata Syekh Muhammad Arsyad kembali
“alhamdulillah semua adalah anugrah dari Allah SWT “kata orang tersebut yg setelah berkenalan adalah Datu Sanggul
“saya berasl dari martapura borneo sudikah kiranya anda mampir kerumah saya “pinta Syekh Muhammad Arsyad
“baiklah “jawab Datu Sanggul
kemudian mereka berjalan ketempat tinggal Syekh Muhammad Arsyad ,sesampai dirumah Syekh Muhammad Arsyad memeluk datu sanggul dan mencium tangan beliau sambil berkata “sampeyan adalah saudara ulun dunia akhirat’
“ya…kita saudara dunia akhirat “jawab Datu Sanggul
“dimanakah kakanda belajar sehingga mendapatkan anugerah begitu besar ini” Syekh Muhammad Arsyad kembali bertanya “kakanda belajar dengan Datu suban dimuning pantai munggu tayuh tiwadak gumpa dan sekarang beliau telah wafat,dan kepada kakanda diberikan sebuah kitab dan Al-Qur’an segi delapan,kedua pusaka itu asalnya adalah milik Datu Nuraya yang juga telah wafat” ,mendengar cerita tentang kitab tersebut Syekh Muhammad Arsyad sangat tertarik. “kalau kakanda menganggap saya sebagai saudara dunia akhirat izinkanlah adinda ikut mempelajari isi kitab tersebut ” boleh saja adinda mempelajari kitab tsb namun kitab ini harus dibagi dua bagian,dengan dipotong segitiga silahkan adinda memotongnya “kata Datu Sanggul sambil mengeluarkan kitab yg selalu dibawanya,Syekh Muhammad Arsyad mengambil pisau yg sangat tajam dan mulai memotong kitab tsb,namun alangkah terkejutnya beliau karna pisau yg sangat tajam tersebut tidak dapat memotong kitab itu menjadi dua bagian bahkan mata pisau tsb menjadi tumpul,kemudian kitab tsb diserahkan kembali kepada Datu Sanggul untuk beliau potong sendiri,kemudian Datu Sanggul hanya dengan menggoreskan kuku beliau kitab tersebut terbelah menjadi dua bagian,yg kemudian satu bagiannya diserahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk dipelajari dan bagian yg satunya beliau bawa kembali dengan pesan setelah selesai mempelajari dan pulang keborneo untuk mengambil bagian yang satunya,”jika adinda nanti pulang keborneo dan bertandang kerumah kakanda untuk mengambil kitab yg satunya hendaklah adinda mmbawa kain putih sebanyak lima lembar,kakanda berharap agar adinda jangan sampai lupa pesan kakanda ini “kata Datu Sanggul menambahi “baiklah pesan kakanda akan adinda ingat selalu dan adinda memohon doa restu dan mendoa kan adinda dalam mempelajari kitab ini ,
karena hari sudah menjelang magrib Datu Sanggul lalu berpamitan untuk pulang ke borneo ” tunggu sebentar kakanda ada yg adinda pertanyakan lagi dihalaman istana ada tumbuh sebatang pohon durian ,apakah pohon tersebut berbuah atau belum,kalau sudah berbuah adinda mohon kakanda memetiknya sebiji untuk adinda,sebab selama adinda tinggal disini adinda belum pernah memakan buah durian ”
“pohon durian tsb sekarang sedang berbuah namun buahnya cuma dua biji dan dijaga ketat oleh pasukan raja siang dan malam agar tak seorang pun dapat mengambilnya,sebaiknya buah tsb jangan diambil sebab nantinya mungkin akan berakibat tidak baik “kata datu sanggul,tp karna didesak oleh Syekh Muhammad Arsyad akhirnya Datu Sanggul berjanji memenuhi permintaan Syekh Muhammad Arsyad.
pada jum’ad berikutnya ketika tengah hari Datu Sanggul memetik buah durian yg dijaga oleh pasukan raja tanpa diketahui oleh satu orangpun,al hasil kerajaan menjdi gempar,baginda raja sangat marah dan berencana menghukum para pasukan yg menjaga pohon durian tsb,tapi permaisuri melarang baginda raja menghukum mereka karena tidak ada bukti kesalahan mereka,singkat cerita buahdurian tersebut diserahkan kepada Syekh muhammad Arsyad dengan pesan supaya tangkai durian tadi disimpan sebagai bukti nanti kepada baginda raja,setelah berpisah kembali dengan Datu sanggul beliau dengan tekun mempelajari kitab tsb.
Setelah lebih 30 thn Syekh Muhammad Arsyad belajar ditanah suci akhirnya beliau menguasai berbagai bidang ilmu agama,sebenarnya beliau dan kawan kawan tidak ingin pulang ketanah air dan ingin melanjutkan pelajaran ke mesir namun maksud tersebut dibatalkan karena perintah gguru mereka yaitu Syekh Sulaiman Al-Kurdi yang menyatakan bahwa ilmu mereka sudah cukup dalam dan luas dan lebih penting untuk memberi pelajaran dan bimbingan kepada masyarakat masing masing,akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu,setia ditanah Betawi (Jakarta) Syekh Muhammad Arsyad dan kawan kawannya disambut oleh ulama dan orang banyak dengan gembira,selama dijakarta berkat karamah yang beliau miliki beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat,diantaranya mesjid Jembatan Lima,Mesjid Luar Batang dan Mesjid Pekojan setelah sholat sunat eliau hanya menggeserkan sorban beliau …luar biasanya bangunan mesjid tsb mengiringi geseran sorban beliau…subhanallah….
itu adalah sebagian karamah beliau yg diluar nalar manusia dan banyak lagi yg lainnya,setelah sampai dimartapura beliau langsung menuju istana kerajaan dan disambut dengan meriahnya,dalam kesempatan tsb beliau menceritakan hal ikhwal mengenai durian lengkap dengan hari tanggal dan jam kehilangan durian diistana raja,akhirnya raja memakluminya dan bersyukur karena tidak menghukum para prajurit kerajaan,setelah beberapa hari beliau minta ijin kepada raja untuk mendatangi datu Sanggul dengan diiringi sepasukan prajurit raja,tak lupa beliau membawa kain putih yg dipesankan oleh Datu Sanggul,setelah sampai dikampung muning tatakan rantau dengan petunjuk masyarakat beliau langsung menuju rumah Datu Sanggul,tapi apa yg terjadi setelah sampai dirumah Datu Sanggul ternyata beliau baru saja berpulang kerahmatullah….Innalillahi wainailahirajiun….ternyata kain putih yang dipesankan oleh Datu Sanggul untuk kain kapan beliau…subhanallah…setelah pemakaman Datu Sanggul atas pesan beliau sebelum wafat kepada istrinya maka diserahkan penggalan kitab yg kemudian hari disebut kitab barencong kepada Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari,lalu Syekh Muhammad Arsyad pamit untuk pulang kemartapura.
disamping sebagai seorang pengajar Syekh Muhammad Arsyad adalah seorang penulis yang produktif diantara kitab kitab yang beliau karang adalah
1.Sabilal Muhtadin (kitab fiqih)
2.Risalah Ushuluddin (kitab tauhid)1188 hijriah
3 Tuhfatur Raghibin (kitab tauhid)1188 hijriah
4Kanzul Ma’rifah (tasawuf)
5.Lugthatul ‘Ajlan (kitab fiqih khusus masalah perempuan)
6.Kitab Faraid (kitab pembagian waris)
7.Al-Qawlul Mukhtashar(kitab berisi tentang Imam Mahdi)1196 hijriah
8.Kitab Ilmu Falak (astronomi)
9.Fatawa Sulaiman Kurdi (berisi fatwa fatwa guru beliau Sulaiman Al-Kurdi)
10.Kitabun Nikah (tata cara perkawinan dalam syariat islam)
Selain itu ada pula karya tulis beliau berupa Mushaf Al-Qur’an tulisan tangan beliau berukuran besar dengan Khat sangat indah dan sampai sekarang masih bisa dilihat di Museum Nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan,beliau mempunya 11 orang istri dan mempunyai 30 orang anak dan sekarang sudah tersebar kemana mana,dikalimantan khususnya kalimantan selatan keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan mutiara yang tiada ternilai,keturunan beliau merupakan penerang penerang bagi para pecinta ilmu…salah satunya Yang Mulia Guru kita Alm. Syekh Muhammad Zaini bin H. Abdul Ghani Al-Banjari ,Syekh Muhammad Arsyad wafat pada 6 syawal 1227 hijriah bertepatan dengan 3 oktober 1812 m dalam usia 105 tahun,semoga Allah SWT selalu merahmati beliau dan keturunan keturunan beliau hingga akhir jaman. amiiin ya robbal alamiinn…
اللهم انشر نفحات الرضوان عليه وأمدنا بالأسرار التى او دعتها لديه لا اله الا الله سيدنا محمد رسول الله صل الله عليه وسلم جدنا الشيخ محمد ارشد البنجرى ولي الله رضي الله عنه اللهم صل وسلم جده الامين سيدنا محمد صل الله عليه وسلم

MANAQIB ABAH GURU SAKUMPUL (GURU IJAI) MARTAPURA KALIMANTAN SELATAN

 

Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd. Ghani bin Al ‘arif Billah Abd. Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muh. Seman bin H. M, Sa’ad bin H. Abdullah bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. M. Khalid bin ‘Alimul ‘allamah Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad; dilahirkan pada, malam Rabu 27 Muharram, 1361 H (I I Februari 1942 M).

Nama kecilnya adalah Qusyairi, sejak kecil beliau termasuk dari salah seorang yang “mahfuzh”, yaitu suatu keadaan yang sangat jarang sekali terjadi, kecuali bagi orang orang yang sudah dipilih oleh Allah SWT.

Beliau adalah salah seorang anak yang mempunyai sifat sifat dan pembawaan yang lain daripada yang lainnya, diantaranya adalah bahwa beliau tidak pernah ihtilam.

‘Alimul ‘allamah Al Arif Billah Asy-Syekh H. Muhammad Zaini Abd Ghani sejak kecil selalu berada disamping kedua orang tua dan nenek beliau yang benama Salbiyah. Beliau dididik dengan penuh kasih sayang dan disiplin dalam pendidikan, sehingga dimasa kanak kanak beliau sudah mulai ditanamkan pendidikan Tauhid dan Akhlaq oleh ayah dan nenek beliau. Beliau belajar membaca AI Quran dengan nenek beliau, dengan demikian guru pertama dalam bidang ilmu Tauhid dan Akhlaq adalah ayah dan nenek beliau sendiri.

Meskipun kehidupan kedua orang tua beliau dalam keadaan ekonomi sangat lemah, namun mereka selalu memperhatikan untuk turut membantu dan meringankan beban guru yang mengajar anak mereka membaca Al Quran, sehingga setiap malamnya beliau selalu membawa bekal botol kecil yang berisi minyak tanah untuk diberikan kepada Guru yang mengajar AI Quran.
Dalam usia kurang lebih 7 tahun beliau sudah mulai belajar di madrasah Darussalam Martapura.

Guru guru’Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani :

1. Ditingkat Ibtida adalah: Guru Abd Mu’az, Guru Sulaiman, Guru Muh. Zein, Guru H. Abd. Hamid Husin, Guru H. Mahalli, Guru H. Rafi’I, Guru Syahran, Guru H. Husin Dakhlan, Guru H. Salman Yusuf

2. Ditingkat Tsanawiyah adalah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani’Arif, ‘Alimul Fadhil H, Husin Qadri, ‘Alimul Fadhil H. Salilm Ma’ruf, ‘Alimul Fadhil H. Seman Mulya, ‘Alimul Fadhil H. Salman Jalil.

3. Guru dibidang Tajwid ialah: ‘Alimul Fadhil H. Sya’rani ‘Arif, ‘Alimul Fadhil At Hafizh H. Nashrun Thahir, ‘Al-Alim H. Aini Kandangan.

4. Guru Khusus adalah: ‘Alimul’allamah H. Muhammad Syarwani Abdan, ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin Kutby.

Sanad sanad dalam berbagai bidang ilmu dan Thariqat diterima dari:
Kyai Falak (Bogor), ‘Alimul’allamah Asy Syekh Muh Yasin Padang (Mekkah). ‘Alimul’allamah As Syekh Hasan Masysyath, ‘Alimul’allamah Asy Syekh Isma’il Yamani dan ‘Alimul’allamah Asy Syekh Abd. Qadir Al Baar.

5. Guru pertama secara Ruhani ialah: ‘Alimul ‘allamah Ali Junaidi (Berau) bin ‘Alimul Fadhil Qadhi H. Muhammad Amin bin ‘Alimul ‘allamah Mufti H. Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad, dan ‘Alimul ‘allamah H. Muhammad Syarwani Abdan.

Kemudian ‘Alimullailamah H. Muhammad Syarwani Abdan menyerahkan kepada Kiayi Falak dan seterusnya Kiayi Falak menyerahkan kepada ‘Alimul’allamah Asy Syekh As Sayyid Muh. Amin Kutby, kemudian beliau menyerahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad yang selanjutnya langsung dipimpin oleh Rasulullah saw.

Atas petunjuk ‘Alimul’allamah Ali Junaidi, beliau dianjurkan untuk belajar kepada ‘Alimul Fadhil H. Muhammad (Gadung) bin ‘Alimul Fadhil H. Salman Farlisi bin ‘Allimul’allamah Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad, mengenal masalah Nur Muhammad; maka dengan demikian diantara guru beliau tentang Nur Muhammad antara lain adalah ‘Alimul Fadhil H. M. Muhammad tersebut diatas.
Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat dan anugerah dari Tuhan berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa apa yang ada didalam atau yang terdinding.

Dan dalam usia itu pula beliau didatangi oleh seseorang bekas pemberontak yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya. Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi, laki-laki tersebut ternyata ketika melihat beliau langsung sungkem dan minta ampun serta memohon minta dikontrol atau diperiksakan ilmunya yang selama itu ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan diapun minta agar supaya ditobatkan.

Mendengar hal yang demikian beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga, di dalam rumah, sepeninggal beliau masuk kedalam ternyata tamu tersebut tertidur.

Setelah dia terjaga dari tidurnya maka diapun lalu diberi makan dan sementara tamu itu makan, beliau menemui ayah beliau dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayah beliau tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya. Setelah selesai makan lalu beliau menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dimaksud oleh ayah beliau dan jawabannva langsung beliau sampaikan kepada ayah beliau. Kemudian kata ayah beliau tanyakan apa lagi, maka jawabannyapun disampaikan beliau pula. Dan kata ayah beliau apa lagi, maka setelah berulamg kali di tanyakan apa lagi ilmu yang ia miiki maka pada akhirnya ketika beliau hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, maka tamu tersebut tatkala melihat beliau mendekat kepadanya langsung gemetar badannya dan menangis seraya minta tolong ditobatkan dengan harapan Tuhan mengampuni dosa dosanya.

Pernah rumput rumputan memberi salam kepada beliau dan menyebutkan manfaatnya untuk pengobatan dan segalanya, begitu pula batu-batuan dan besi. Namun kesemuanya itu tidaklah beliau perhatikan dan hal hal yang demikian itu beliau anggap hanya merupakan ujian dan cobaan semata dari Allah SWT.
Dalam usia 14 tahun, atau tepatnya masih duduk di Kelas Satu Tsanawiyah, beliau telah dibukakan oleh Allah swt atau futuh, tatkala membaca Tafsir: Wakanallahu syamiiul bashiir.

‘Alimul’allamah Al-‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani, yang sejak kecilnya hidup ditengah keluarga yang shalih, maka sifat sifat sabar, ridha, kitmanul mashaib, kasih sayang, pemurah dan tidak pemarah sudah tertanam dan tumbuh subur dijiwa beliau; sehingga apapun yang terjadi terhadap diri beliau tidak pernah mengeluh dan mengadu kepada orang tua, sekalipun beliau pernah dipukuli oleh orang-orang yang hasud dan dengki kepadanya.

Beliau adalah seorang yang sangat mencintai para ulama dan orang orang yang shalih, hal ini tampak ketika beliau masih kecil, beliau selalu menunggu tempat tempat yang biasanya ‘Alimul Fadhil H. Zainal Ilmi lewati pada hari-hari tertentu ketika hendak pergi ke Banjarmasin semata mata hanya untuk bersalaman dan mencium tangan tuan Guru H. Zainal Ilmi.

Dimasa remaja ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M Zaini Abd Ghani pernah bertemu dengan Saiyidina Hasan dan Saiyidina Husin yang keduanva masing-masing membawakan pakaian dan memasangkan kepada beliau lengkap dengan sorban dari lainnya. Dan beliau ketika itu diberi nama oleh keduanya dengan nama Zainal ‘Abidin.

Setelah dewasa. maka tampaklah kebesaran dan keutamaan beliau dalam berbagai hal dan banyak pula orang yang belajar. Para Habaib yang tua tua, para ulama dan guru-guru yang pernah mengajari beliau, karena mereka mengetahui keadaan beliau yang sebenarnya dan sangat sayang serta hormat kepada beliau.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani adalah seorang ulama yang menghimpun antara wasiat, thariqat dari haqiqat, dan beliau seorang yang Hafazh AI Quran beserta hafazh Tafsirnya, yaitu Tafsir Al Quran Al ‘Azhim Lil-Imamain Al Jalalain. Beliau seorang ulama yang masih termasuk keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang menghidupkan kembali ilmu dan amalan-amalan serta Thariqat yang diamalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Karena itu majelis pengajian beliau, baik majelis tali’m maupun majelis ‘amaliyahnya adalah seperti majelis Syekh Abd. Kadir al-Jilani.

Sifat lemah lembut, kasih sayang, ramah tamah, sabar dan pemurah sangatlah tampak pada diri beliau, sehingga beliau dikasihi dan disayangi oleh segenap lapisan masyarakat, sababat dan anak murid.

Kalau ada orang yang tidak senang melihat akan keadaan beliau dan menyerang dengan berbagai kritikan dan hasutan maka beliaupun tidak peniah membalasnya. Beliau hanya diam dan tidak ada reaksi apapun, karena beliau anggap mereka itu belum mengerti, bahkan tidak mengetahuu serta tidak mau bertanya.

Tamu tamu yang datang kerumah beliau, pada umumnya selalu beliau berikan jamuan makan, apalagi pada hari-hari pengajian, seluruh murid murid yang mengikuti pengajian yang tidak kurang dari 3000 an, kesemuanya diberikan jamuan makan. Sedangkan pada hari hari lainnya diberikan jamuan minuman dan roti.

Beliau adalah orang yang mempunyai prinsip dalam berjihad yang benar benar mencerminkan apa apa yang terkandung dalam Al Quran, misalnya beliau akan menghadiri suatu majelis yang sifatnya da’wah Islamivah, atau membesarkan dan memuliakan syi’ar agama Islam. Sebelum beliau pergi ketempat tersebut lebih dulu beliau turut menyumbangkan harta beliau untuk pelaksanaannya, kemudian baru beliau dating. Jadi benar benar beliau berjihad dengan harta lebih dahulu, kemudian dengan anggota badan. Dengan demikian beliau benar benar meamalkan kandungan Al Quran yang berbunyi: Wajaahiduu bi’amwaaliku waanfusikum fii syabilillah.

‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy-Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani, adalah satu satunya Ulama di Kalimantan, bahkan di Indonesia yang mendapat izin untuk mengijazahkan (baiat) Thariqat Sammaniyah, karena itu banyaklah yang datang kepada beliau untuk mengambil bai’at thariqat tersebut, bukan saja dari Kalimantan, bahkan dari pulau Jawa dan daerah lainnya.

‘Alimul’allamah Al ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani dalam mengajar dan membimbing umat baik laki-laki maupun perempuan tidak mengenal lelah dan sakit. Meskipun dalam keadaan kurang sehat beliau masih tetap mengajar.

Dalam membina kesehatan para peserta pengajian dalam waktu waktu tertentu beliau datangkan doktcr dokter spesialis untuk memberiikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai. Seperti dokter spesialls jantung, paru paru, THT, mata, ginjal, penyakit dalam, serta dokter ahli penyakit menular dan lainnya. Dengan demikian beliau sangatlah memperhatikan kesehatan para peserta pengajian dari kesehatan lingkungan tempat pengajian.

Karomah- Karomahnya
Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton, biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah.

Tiba tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketaui oleh yang hadir beliau mengacungkan tangannya kebelakang dan ternyata ditangan beliau terdapat sebuah buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.

Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguh jamuan oleh shahibulbait maka tampak ketika, itu makanan, tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, ternyata, makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan akan tidak dimakan oleh beliau
Pada suatu musim kemarau yang panjang, dimana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa secara turun.

Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada didekat rumah beliau itu, maka beliau goyang goyangkan lah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujanpun turun dengan derasnya.

Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad yang ke 189 di Dalam pagar Martapuram, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh ‘Alimul ‘allamah Al ‘Arif Billah Asy Syeikh H. M. Zaini Abd. Ghani menuju ketempat pelaksanaan haul tersebut, hal ini sempat mencemaskan panitia pelaksanaan haul tersebut, dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari.

Banyak orang orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, orang yang sedang hamil dan bayinya jungkir serta meninggal dalam kandungan ibunya, sernuanya ini menurut keterangan dokter harus dioperasi. Namun keluarga mereka pergi minta do’a dan pertolongan. ‘Allimul’allamah ‘Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa dioperasi.

Demlklanlah diantara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihiNya. ***
(Abu Daudi)

Karya tulis beliau adalah :
– Risalah Mubarakah.
– Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abd. Karim Al-Qadiri Al Hasani As Samman Al Madani.
– Ar Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
– Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba-‘Alwy.

Wasiat Tuan Guru K.H. M. Zaini Abdul Ghoni
1. Menghormati ulama dan orang tua,
2. Baik sangka terhadap muslimin,
3. Murah hati,
4. Murah harta,
5. Manis muka,
6. Jangan menyakiti orang lain,
7. Mengampunkan kesalahan orang lain,
8. Jangan bermusuh-musuhan,
9. Jangan tamak / serakah,
10. Berpegang kepada Allah, pada Qobul segala hajat,
11. Yakin keselamatan itu pada kebenaran,

Kompleks Mushalla ar-Raudah

 

 

Diposkan oleh MY Je_BLOGGER di 17:13

RASULULLAH SAW, ORANG TUA DAN UANG SATU SEN

Cucu-cucuku tersayang, perempuan maupun laki-laki. Tuhan telah menempatkan seluruh kekayaan-Nya di dalam diri kita. Dia telah menganugrahkan kepada kita kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Temukanlah khazanah ini melalui perilaku yang baik. Kekayaan itu benar-benar ada, namun tersembunyi jauh di dalam diri kita. Kita sendirilah yang telah menguburnya, terpendam oleh rasa iri dan dengki, dan kini kita musti menggalinya dalam-dalam untuk memperoleh kembali kekayaan itu. Kita musti mengeruk dan menepis jauh-jauh kegelapan untuk memperolehnya.

Anak-anakku terkasih. Untuk menjelaskannya, ijinkan aku bercerita tentang sebuah kisah. Cerita tentang Rasulullah s.a.w.

Di kota Madinah, tersebutlah seorang tua. Hidupnya sangatlah nestapa. Kesulitan demi kesulitan menimpanya, masalah demi masalah. Ia mengadukan nasib hidupnya ini kepada orang-orang yang kemudian menyuruhnya pergi ke tempat ini dan itu. Awalnya ia memohon kepada raja dan raja berkenan membantunya, namun pak tua itu tak beroleh banyak dari uluran tangannya. Lalu ia pergi ke para guru yang kemudian membantunya ala kadarnya, namun ia tetap miskin. Tampaknya tak seorang pun sanggup mengangkat kesulitan yang dihadapinya. Tak satu pun cara mampu mengubah keadaannya. Dan tiada henti ia bertanya siapa gerangan yang dapat mengakhiri kesengsaraan hidupnya ini.

Lalu, seseorang memberi nasihat kepadanya, “Temuilah Rasulullah s.a.w. dan mintalah tolong kepadanya. Ia tinggal di ujung sana. Pergilah kepadanya.”

Maka pengemis tua itu pergi menemui Muhammad s.a.w., “Wahai, Rasulullah. Kehidupanku sungguh sulit,” ujarnya. “Aku datang meminta tolong kepadamu demi mengakhiri kenestapaan ini.”

“Wahai, saudaraku, sebab itukah kau datang kemari? Bagus sekali,” jawab Rasulullah s.a.w. “Baiklah, kini serahkan kepadaku semua yang kau miliki.”

“Wahai Rasulullah, aku tak punya apa-apa!” seru orang tua itu.

“Tak punya sama sekali? Sungguh sulit memang bila kau tak punya apa-apa. Pastilah engkau memiliki sesuatu. Ada satu hal yang semestinya kau miliki agar kesulitanmu itu sirna. Tahukah kau apa itu? Satu hal itu adalah Allah s.w.t. Jika engkau ‘memiliki’ Allah, maka tiada yang akan menyulitkanmu. Namun bila tidak, engkau akan senantiasa dirundung kesengsaraan. Engkau hanya akan menjadi kaya bila engkau memiliki yang satu itu.”

“Benarkah?” tanya pak tua.

“Tentu. Maukah engkau menyimpan satu hal itu?”

“Bilamana saja aku memilikinya, sepertinya aku akan menyimpannya. Tapi kini aku tak memilikinya,” keluh pengemis tua itu.

“Baiklah. Pertama, teguhkanlah imanmu, keyakinanmu. Ucapkan, ‘La ilaha ill-Allahu Muhammadur-Rasulullah: tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-nya’. Ini adalah jalan menuju kekayaan itu. Maka pertama, tegakkan jalan itu di hatimu yang terdalam, di dalam qalb-mu. Namun sekarang, serahkan padaku segala yang kau miliki.”

“Apa maksudmu?” tanya pak tua itu.

“Serahkan saja padaku apa saja yang kau miliki. Apakah kau tak punya sesuatu yang bisa kau berikan padaku?”

“Ya. Aku punya satu sen.”

“Berikan padaku,” ujar Rasulullah s.a.w. dan pak tua itu pun menyerahkan uangnya satu-satunya.

Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, “Apa lagi yang engkau punya selain ini?”

“Tidak ada. Cuma itu.”

“Jika cuma ini yang kau miliki, mustinya tiada yang akan menyulitkanmu. Tapi engkau menyimpan duka lara itu, kemiskinanmu, kenestapaanmu. Serahkan itu semua kepadaku, dan simpan apa yang tadi kuberikan kepadamu: Kalimah itu. Berikan padaku yang lainnya, pikiran-pikiranmu, masalahmu, dan kesedihanmu. Simpan kekayaan Allah dan buang segala duka dan apa saja yang menyengsarakanmu. Serahkan kepada Allah s.w.t.”

Maka Rasulullah s.a.w. mengambil uang itu dengan satu tangan, lalu memindahkannya ke tangan yang lain. Dan diserahkannya kembali uang itu kepada pak tua seraya berkata, “Ini adalah rahmat, kekayaan Allah. Ini, ambillah. Ambil ini dan jalankan perdagangan dengan baik.”

“Perdagangan macam apa yang bisa kujalankan hanya dengan satu sen?” tanya pak tua itu heran.

“Uang itulah perdagangannya,” jawab Muhammad s.a.w.

“Tapi bagaimana aku bisa berdagang hanya dengan satu sen?” ujarnya terus.

“Bukankah engkau berjanji akan menyimpan kekayaan lain yang tadi keserahkan kepadamu. Simpan itu. Ambillah pula uang ini, dan berdaganglah dengannya. Ambillah, dan jalani hidupmu.”

Maka pak tua itu pun mengambil uangnya, walau dengan sedikit kebingungan, “Bagaimana mungkin aku berdagang dengan hanya satu sen ini?! Engkau hanya mengembalikan uangku. Engkau tak memberiku sesuatu yang lain!”

“Aku mengubahnya. Engkau berikan kepadaku dan aku mengubahnya. Kini uang itu bukan sekedar satu sen. Sebelumnya memang satu sen, namun ketika aku mengambilnya, aku memindahkannya dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Kini uang itu tak lagi satu sen. Uang itu kini adalah rahmat, kekayaan Tuhan. Ambillah, itu adalah rahmat.” Maka orang tua itu mengambilnya dan pergi.

Pada saat yang sama, sang raja sedang menderita bengkak yang amat parah di kakinya, penuh nanah dan darah yang tak seorang pun sanggup menyembuhkan. Lalu salah seorang tabib memberi nasihat kepada sang raja, “Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan meletakkan satu sen di atas luka itu. Maka bengkak itu pun akan sembuh.”

Maka sang raja memerintahkan para menterinya untuk mencari orang yang memiliki satu sen. Tepat ketika itu pula, pak tua tadi berdiri tak jauh dari situ seraya memandangi uang miliknya dan merenungi bagaimana cara menggunakannya. Salah seorang menteri menemukan pak tua itu, lalu membawanya ke hadapan sang raja. “Apa yang ada di tanganmu itu? Serahkan padaku. Aku akan mengganti dengan satu kepeng untuk satu sen uangmu,” ujar sang raja, dan pengemis tua itu pun memberikan satu sen uangnya. Sang raja menyerahkan satu kepeng, dan meletakkan satu sen di atas lukanya. Karena uang itu mengandung rahmat Rasulullah s.a.w., bengkak di kaki sang raja pun mengering seketika dan tak lama kemudian sembuh.

Riang rasanya hati pak tua. Ia mengambil uang pengganti itu dan pergi untuk membeli unta, sapi, kambing, sebidang tanah, dan kurma. Ternak dan kebunnya tumbuh pesat, jumlahnya pun berlipat. Dan tak lama kemudian, ia pun telah memiliki berbagai buah-buahan, kurma, susu dan sari kurma. Ia membungkusnya dan membawanya kepada Rasulullah s.a.w. yang memandangnya seraya berkata, “Wahai saudaraku, apa ini semua?”

“Wahai, manusia agung. Allah s.w.t. telah memberiku kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Kini aku mengerti. Engkau memberiku satu kepeng lewat satu senku itu, dan begitu banyak kekayaan mendatangiku semenjak itu, dan kini aku membawanya di hadapanmu.”

“Benarkah?” kata Rasulullah s.a.w. “Bagus sekali. Allah-lah yang telah menganugerahkannya bagimu. Dan kepada siapa engkau membagi semuanya ini? Apakah engkau berbagi dengan orang lain yang berkesulitan seperti yang engkau alami dulu?”

“Tidak, aku belum berbagi dengan siapa-siapa. Aku ingin menghadiahimu terlebih dulu. Aku telah memiliki rumah, istana, benteng, kebun kurma yang luas, unta, sapi, kerbau, dan kekayaan yang melimpah.”

“Ingatkah engkau akan kesengsaraanmu dulu?” tanya Rasulullah s.a.w. “Bukankah bila engkau ingat dan mengerti, pasti engkau akan membantu semua fakir miskin di sekelilingmu? Engkau seharusnya membantu mereka. Allah s.w.t. telah memberimu banyak sekali, dan sudah semestinya engkau berbagi dengan mereka. Bagilah kekayaan yang telah Tuhan anugerahkan itu kepada mereka yang kelaparan, nestapa, dan miskin. Bantu mereka. Kini, pergi dan bantulah mereka.”

“Allah s.w.t. adalah satu-satunya kekayaanku. Dialah kekayaan yang telah Dia berikan kepadaku. Aku tak menginginkan kekayaan yang Dia anugerahkan kepadamu. Berbagilah dengan orang-orang di sekitarmu.” Inilah yang dikatakan Rasulullah kepada pak tua itu.

Seperti itulah, cucu-cucuku. Jika engkau bertemu dengan seorang Guru atau Syeikh seperti Rasulullah s.a.w ini, maka sang Guru akan mengubah apapun yang engkau berikan kepadanya. Jika engkau memberinya satu sen, ia akan mengubahnya. Dan jika engkau menerima dengan hati-hati apa yang ia kembalikan kepadamu, maka rahmat itu akan menjadi kekayaanmu. Ia akan mengubahnya, dari tangan yang satu ke tangan yang lain, dan mengembalikan kepadamu sebagai rahmat, kekayaan Allah. Itu akan menjadi kekayaanmu yang sesungguhnya, kekayaan yang tiada habisnya.

Apapun yang engkau bawa kepadanya, pikiran, pengetahuan, daulat dan harta, perilaku yang baik, ia akan mengubahnya dengan memindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain, lalu ia akan menyerahkannya kembali kepadamu. Ia tak akan menyimpannya, karena hanya Allah yang ia butuhkan. Ia akan menerimanya, memindahkannya dari tangan satu ke tangan yang lain, lalu menyerahkannya kembali sebagai rahmat. Ia akan melipatgandakan apa yang engkau berikan dan mengembalikannya kepadamu.

Namun jika engkau menganggap, “Ah, ia tak memberiku apa-apa!” maka itu adalah kesalahanmu, keraguanmu sendiri. Jika engkau memiliki iman dan keyakinan yang teguh, maka apapun yang engkau berikan akan berlipat ganda. Seperti halnya dirimu sendiri yang tumbuh dari sebintik atom lalu menjadi bentuk, begitulah kekayaanmu akan berkembang. Pengetahuan ilahiah yang dikenal sebagai ‘ilm, kekayaanmu, kekayaan mubarokat, semuanya tumbuh dari sebintik atom, dan engkau musti teguh berjuang untuk memperolehnya.

Sang Syeikh akan mengubah dan melipatgandakan apa saja yang engkau berikan kepadanya. Jika engkau ajukan dirimu, jika engkau serahkan segala pikiranmu, dan jika engkau hadir secara penuh di dalam dirinya, maka keutuhan itu akan menjadi kekayaanmu. ‘Ilm, pengetahuan ilahiah itu, akan menghiasi kehidupanmu. Namun jika engkau enggan meneguhkan imanmu dan keyakinanmu, maka engkau akan gagal. Keraguan akan senantiasa meliputimu, dan hidupmu akan jatuh. Itu akan menjadi siksaanmu, kesengsaraanmu, kepedihanmu.

Cucu-cucuku, serahkan seluruh tanggungjawab kepada Guru-mu, dan ambil apa yang diberikannya kepadamu. Ia akan mengganti sebintik atom itu dengan cahaya cemerlang yang bertebaran. Ia akan menukarnya dengan kekayaan rahmat yang melimpah, dan menyerahkannya kembali kepadamu. Percayalah. Pikirkan tentang hal ini, cucu-cucuku.

Jangan mengira bahwa Syeikh akan menghadiahimu rumah atau istana atau bank. Tidak seperti itu. Ia mengubah apa-apa yang kau bawa kepadanya. Yakinilah. Ia mengambil segala yang kau berikan kepadanya dan mengubahnya menjadi surga, kerajaan Tuhan, mubarokat Allah, sifat-sifat-Nya, tindakan-Nya, kemurahan-Nya, dan ‘iman‘-Nya. Ia meneguhkan itu semua, dan itu yang akan menjadi kekayaanmu yang sebenarnya. Tanpa merusaknya, ia akan membuat pemberian itu tumbuh dan berkembang. Teguhkan iman dan keyakinanmu tentang kekuatan itu, maka kekayaan hidupmu tiada akan pernah habis. Kekayaan ‘ilm, kekayaan mubarokat tak akan musnah. Pikirkanlah. Inilah yang ia akan berikan kepadamu. Ia akan ambil apapun yang kau berikan kepadanya dan mengubahnya dengan cara seperti itu. Ia tak akan memberimu selain apa yang telah engkau berikan kepadanya. Ia akan ambil apapun yang kau berikan kepadanya, menyerahkannya kepada Allah, dan mengembalikannya kepadamu. Ini adalah
baidah-nya, kekayaan kasat mata yang ia akan serahkan kembali kepadamu. Pikirkanlah.

Berjuanglah untuk memperoleh rahmat-Nya. Cucu-cucuku yang kukasihi. Semoga Allah melindungimu dengan kasih sayang-Nya. Amin.

* * *
Maret 16, 2011 – Posted by darisrajih | Kisah Sufi

SEORANG SYEKH/ULAMA BESAR MINTA SAMPAIKAN SADAKAHNYA KEPADA PELACUR

Seorang ulama besar Hadis sedang asyik membacakan serta mensyarahkan maksud hadis kepada para muridnya.Tiba-tiba sang guru berhenti membacakan hadis dan bertanyakan sesuatu yang membuatkan semua murid terbingung-bingung.

“Muridku sekalian, aku punya hajat yang sangat besar. Siapakah diantara kalian  yang mampu menunaikan hajatku ini?” Tanya sang murabbi pada seluruh muridnya.

Salah seorang murid kesayangan Syeikh menjawab dengan penuh adab, “Hajat apakah wahai Tuan Guru? Sampaikanlah kepada kami,moga kami mampu menunaikannya untuk Tuan Guru”.

Sang Guru menarik nafas dengan perlahan seraya berkata ” Aku punya sedikit harta yang ingin aku sedekahkan,adakah diantara kalian yang ingin membantuku membagikankan harta ini?”

“Kami bersedia membantumu wahai Tuan Guru untuk membagikan harta ini” jawab Murid tersebut dengan bersemangat.

“Bolehkah Tuan Guru merincikan kepada siapakah harta ini akan dibagikan?” seorang murid yang lain bertanya dengan lebih lanjut.

“Hartaku ini akan aku sedekahkan kepada para pelacur yang berada di tempat begini-begini” Jawab Tuan Guru dengan tenang.

Keadaan menjadi geger,masing-masing keliru menanggapi tujuan utama Tuan Guru yang terkenal alim dan soleh ini.

“Aku sudah menduga bahwa kamu semua tentu tidak akan mampu untuk melaksanakan hajatku ini. Kalau begitu tidaklah mengapa. Biarlah aku sendiri yang pergi menyampaikannya.”Tuan Guru menjawab dengan tenang.

Para murid rasa bersalah di atas sikap yang mereka tunjukkan.Salah seorang murid kesayangan Tuan Guru menawarkan dirinya untuk menyampaikan harta tersebut.Mana mungkin dia boleh membiarkan Tuan Guru yang terkenal hebat dan wara’ ini dibiarkan masuk dan bertandang ke tempat hina seperti itu.

“Ketuklah setiap pintu rumah pelacuran tersebut dan ketika kamu menyampaikan sedekah ini katakan bahwa ini adalah sedekah daripadaku (Nama tuan guru) dan doakan aku semoga diberkati oleh Allah Taala”  Tuan Guru memberikan pesanan kepada muridnya tersebut.

Maka sang murid yang mulia ini terus melaksanakan tugasnya dengan penuh tanda tanya di dalam pemikirannya mengapakah Tuan Guru ingin benar memberikan sedekah kepada golongan hina ini.Namun arahan Tuan Guru perlu dilaksanakan.Sang murid menutup mukanya dan terus masuk ke kawasan pelacuran tersebut.

Beliau mengetuk setiap pintu rumah pelacuran di kawasan itu dan menyampaikan apa yang dipesan oleh Tuan Guru kepadanya.

“Assalamualaikum, maafkan saya mengganggu,saya adalah utusan daripada Tuan Guru fulan bin fulan ingin menyampaikan sedekah daripada beliau kepada kalian.Beliau berpesan agar kalian mendoakan beliau semoga dirahmati oleh Allah taala”.

Terkejut para pelacur bila mendengar nama Tuan Guru yang alim dan wara tersebut sudi memberikan sedekah kepada mereka.Setelah selesai tugasnya, sang murid terus berkeliling daripada kawasan hitam tersebut sambil menghelakan nafasnya.

Masing-masing menanti-nanti apakah yang akan terjadi selanjutnya setelah peristiwa tersebut.Keesokkan paginya , sesuatu yang mengejutkan telah berlaku.Seluruh bumi Syria gempar apabila keseluruhan pelacur yang ada di kawasan tersebut telah beramai-ramai datang menunaikan solat Subuh di Masjid Tuan Guru.Mereka datang mendengar majlis pengajian daripada Tuan Guru dan bertaubat daripada segala dosa-dosa yang telah mereka lakukan.Barulah semua murid faham mengapakah Tuan Guru benar-benar ingin menyampaikan sedekah tersebut kepada golongan pelacur berkenaan.

Ini merupakah karamah yang Allah Ta’ala kurniakan kepada Tuan Guru yang wara’ ini. Dakwahnya yang sangat lembut dan berkesan memberikan impak yang sangat besar kepada kehidupan pelacur-pelacur tersebut.

Tuan Guru yang saya maksudkan di sini ialah al-Alim al-Allamah Muhaddis al-Syam Sayyid Badruddin al-Hasani rahimahullahu taala.Beliau wafat pada 1354 Hijriyah.Beliau digelar “Khatimah al-Huffaz dan al-Muhaddissin” yang bermaksud penutup kepada para ulama Hadis yang terkemuka.Mula mengarang kitab ketika umurnya belumpun sampai 20 tahun.

Beliau mengajar di Masjid Umawi pelbagai bidang ilmu seperti Nahwu, Sarf, Balaghah, Mantiq, Fiqh dan lain-lain.Menurut Syeikh al-Allamah Mahmud Rashid al-Attar rahimahullah (wafat 1362 Hijriyah), Syeikh Badruddin al-Hasani juga mengajar kitab Tafsir Baidhawi tanpa melihat kepada kitab dan tanpa memegang apa-apa kertas pun ditangannya.Tafsir tersebut telah dihafalnya dan dikuasainya dengan begitu hebat.

Ketika umur Syeikh al-Allamah Badruddin al-Hasani mencapai 30 tahun beliau mula mengajar Sahih Bukhari di Masjid al-Sadat.Ini juga dilakukan tanpa melihat kitab sedikitpun.Beliau menghafal keseluruhan Sahih Bukhari di dalam dadanya.Menurut para ulama tidak pernah dilihat seseorang yang begitu alim menyampaikan pengajian dengan keseluruhan bidang ilmu seperti Syeikh Badruddin al-Hasani rahimahullah.Ketika mensyarahkan Sahih Bukhari , keseluruhan ilmu dibahaskannya termasuklah ilmu perubatan, hikmah-hikmah, falsafah dan lain-lain.

Antara kelebihan Syeikh Badruddin al-Hasani rahimahullah juga ialah, semuanya mampu untuk memahami apa yang disampaikannya, bukan hanya para ulama dan penuntut ilmu, malah para petani dan orang awam yang biasa juga mampu untuk memahami apa yang disampaikan oleh Syeikh al-Murabbi rahimahullah.Ini kerana keikhlasannya yang begitu tinggi ketika menyampaikan pengajian.

March 16, 2011 – Posted by darisrajih | Sayyid Badruddin Al-Hasani

SEMPURNANYA KEJADIAN DIRI DAN AKHLAK RASULULLAH SAW

SEMPURNANYA KEJADIAN DAN AKHLAK RASULULLAH SAW
Seorang lelaki bertanya kepada Albarra’ bin Azib ra : “Apakah wajah Rasul saw seperti pedang ?” (bukankah beliau banyak berperang, apakah wajahnya bengis bak penguasa kejam?), maka menjawablah Albarra’ bin Azib ra : “Tidak.. tapi bahkan wajah beliau bagai Bulan Purnama..”, (kiasan tentang betapa lembutnya wajah beliau yang dipenuhi kasih sayang) (Shahih Bukhari hadits no.3359, hadits serupa Shahih Ibn Hibban hadits no.6287).
Diriwayatkan oleh Jabir bin samurah ra : “wajah beliau saw bagaikan Matahari dan Bulan” (Shahih Muslim hadits no.2344, hadits serupa pada Shahih Ibn Hibban hadits no.6297), demikian pula riwayat Sayyidina Ali.kw, yang mengatakan : “seakan akan Matahari dan Bulan beredar di wajah beliau saw”. (Syamail Imam Tirmidzi), demikian pula diriwayatkan oleh Umar bin khattab ra bahwa “Rasul saw adalah manusia yang bibirnya paling indah”.
Al Imam Alhafidh Syeikh Abdurrahman Addeba’I mengumpulkan ciri ciri sang Nabi saw : “Beliau saw itu selalu dipayungi oleh awan dan diikuti oleh kabut tipis, hidung beliau saw lurus dan indah, Bibirnya bagaikan huruf Miim (kiasan bahwa bibir beliau tak terlalu lebar tak pula sempit dan sangat indah), Kedua alisnya bagaikan huruf Nuun, (kiasan bahwa alis beliau itu tebal dan sangat hitam dan bersambung antara kiri dan kanannya)”.
Dari Abi Jahiifah ra : “Para sahabat berebutan mengambil telapak tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka, ketika kutaruh telapak tangan beliau saw diwajahku ternyata telapak tangan beliau saw lebih sejuk dari es dan lebih wangi dari misik” (Shahih Bukhari hadits no.3360).
Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368). “Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419) “Ketika perang Uhud wajah Rasul saw terluka dan mengalirkan darah segar, maka putrinya yaitu Sayyidah Fathimah ra mengusap darah tersebut dan Sayyidina Ali kw memegangi beliau saw, namun ketika terlihat darah itu terus mengalir, maka diambillah tikar dan dibakar, maka debunya ditaburkan diluka itu, maka darahpun terhenti”. (Shahih Bukhari hadits no.2753)

Dari anas bin malik ra : “Dan saat itu dirumah hanya aku, ibuku dan bibiku, lalu selepas shalat beliau berdoa untuk kami dengan kebaikan Dunia dan Akhirat, lalu Ibuku berkata : “doakan pelayanmu ini wahai Rasulullah..” (maksudnya Anas ra), maka Rasul saw mendoakanku dan akhir doanya adalah : “Wahai Allah Perbanyak Hartanya dan keturunannya dan berkahilah” (Shahih Muslim hadits no.660).

“Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya” (Shahih Bukhari hadits no.3356) . “Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani” saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).

Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

siang dan malam seluruh Ummat ini ruku dan sujud, bermilyar wajah menyungkur sujud kehadirat Nya hingga akhir zaman, mereka mensucikan Nama Nya yang Maha Tunggal, merekalah yang selalu dalam naungan Rahmat dan keridhoan Nya, Sebagaimana sabda beliau saw : “Dijadikan kesenanganku adalah shalat”. Shalat merupakan Ibadah yang paling dicintai oleh beliau saw, dan “Shalat adalah Cahaya”, demikian sabda beliau saw pula mengenalkan Indahnya shalat, suatu ibadah yang diawali dengan Takbiratul Ihram yang membuka gerbang penghadapan dengan Rabbul ‘alamin, lalu lantunan kalimat-kalimat surat Alfatihah yang bila dibaca dengan khusyu maka setiap kalimat itu dijawab oleh Raja Alam Semesta, lalu lantunan kalimatullah itu menerangi seluruh alam sanubarinya, meruntuhkan dosa-dosanya, lalu ia ruku’, bertasbih kepada Nya, bertakbir, bertahmid, lalu bersujud dibawah Naungan Kelembutan dan Kasih Sayang Nya, alangkah indahnya ibadah yang satu ini, suatu ibadah yang terangkai dari hampir seluruh bentuk Ibadah, Wudhu, Niat Mulia, Doa, Alqur’an, Takbir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, Ruku’, Sujud, khusyu, Tuma’ninah….., itulah shalat.., Ibadah yang paling sempurna.

Demikianlah ummat ini melakukannya siang dan malam untuk sumpah baktinya kepada Allah Pencipta Alam Semesta, Namun dalam Ibadah yang Multi Sempurna ini…, tak luput…., tak luput…, tak luput…., tak seorangpun melakukan shalat terkecuali diwajibkan Nya bersalam pada Muhammad saw…

dan diwajibkan Nya bershalawat pada Muhammad saw…

“Salam Sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah dan keberkahan Nya….”, kalimat ini merupakan kalimat yang diwajibkan Allah yang harus ada dalam Ibadah termulia ini.. Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?,

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt…

Masih kah kita mengingkari kemuliaan Sang Nabi saw?, Diriwayatkan pula disaat perang Hunain selesai, Rasul saw memberi pada Sofwan 100 ekor unta, lalu 100 ekor lagi dan 100 ekor lagi, berkata Sofwan : “Sungguh Ia (Rasul saw) adalah orang yang paling kubenci, namun ia tak henti hentinya memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai” (Shahih Muslim hadits no.2313). Alangkah penyantunnya Nabi kita ini, bukanlah kecintaan Sofwan karena pmberian harta, namun kebenciannya luntur menghadapi manusia mulia yang memberinya dan saat ia tak berterimakasih justru ia ditambah lagi.. dan lagi…, tidak pernah kita temukan seorang dermawan dimuka Bumi yang setelah ia memberi dan yang diberi tak berterimakasih malah ia menambahnya lagi dan lagi, dan sesekali bukanlah barang yang murah, karena harga seekor Unta hampir menyamai 40 ekor kambing, dan beliau memberikannya 100 ekor onta, dan Sofwan tak berterimakasih dan tetap membencinya, beliau menambahnya lagi 100 ekor unta, lalu menambah lagi 100 ekor unta, lunturlah Sofwan.. ia lebur.. tak ada lagi yang lebih dicintainya selain Muhammad saw..

Jadilah beliau saw ini idola para sahabat, dan dalam riwayat lain, Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469). Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw, Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480). Alangkah besar penghormatan para sahabat pada tempat tempat yg disentuh Tubuh Rasulullah saw, Bahkan gunung Uhud mencintai beliau saw dan dicintai oleh beliau saw sebagaimana sabdanya saw : “Gunung Uhud ini mencintai kita dan kita mencintainya” (Shahih Bukhari hadits no.3854).

Betapa Indahnya Alam semesta ini semua beridolakan Muhammaa saw, mencintai Muhammad saw, Memuliakan Muhammad saw, tak lain karena Allah telah mengumumkannya, sebagaimana Sabda beliau saw : “Bila Allah mencintai seorang Hamba maka Allah berkata kepada Jibril as : WAHAI JIBRIL, AKU MENCINTAI FULAN MAKA CINTAILAH IA”, maka berkatalah Jibril as menyeru kepada Alam Semesta : “Wahai Penduduk Langit, Sungguh Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia, maka diberikanlah padanya Kasih sayang dimuka Bumi, maka ia dicintai dibelahan Bumi” (Shahih Bukhari hadits no.3037, 5693, 7047). Dan kita memahami bahwa Pengumuman itu terus berkumandang mengumumkan orang-orang yang dicintai Allah, dan tentunya pengumuman itu bergema terluhur dan terdahsyat saat mengumumkan Nama Muhammad saw….!, Maka Beliau saw dicintai Gunung, dicintai batang korma, hewan, manusia, jin, malaikat, dan orang-orang mukmin.. Beruntunglah Jiwa orang orang yg mencintai Muhammad saw.

“SUNGGUH ALLAH DAN PARA MALAIKAT MELIMPAH
KAN SHALAWAT ATAS NABI (saw) WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, BERSHALAWATLAH KALIAN KEPADANYA DAN BERSALAM LAH DENGAN SEMULIA MULIA SALAM” (QS Al Ahzab-56)

KEJADIAN RUH NABI MUHAMMAD SAW.

Sekalipun urutan Nabi Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah terakhir (Khatamul Anbiyaa’), namun pada kenyataanya, beliau itu adalah orang (seorang manusia) yang pertama kali diciptakan oleh Allah, sebelum Allah menciptakan alam semesta ini, termasuk menciptakan Nabi Adam as di dalamnya. Tapi Allah menciptakanya bukan dalam be ntuk kasarnya(jasadnya) tapi dalam bentuk Nur/Cahaya (ruh) yang hanya Allah sajalah yang mengetahuinya akan hakikat yang sesungguhnya.
Dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman yang diriwaykan dari Jabir ra. :
artinya :
“sesungguhnya Allah swt. menciptakan ruh (nyawa) Nabi Muhammad saw. itu dari Dzat-Nya dan kemudian dijadikan alam raya ini seluruhnya (adalah percikan ) nyawa (ruh) Nabi Muhammad saw.”.

Dan Nabi Muhammad saw. sendiri bersabda:
Artinya :
” pertama kali yang di jadikan Allah swt. adalah ruhku (nyawaku)”.

Dan sabdanya lagi
Artinya :
“Aku (Muhammad) adalah yang dijadikan pertama kali oleh Allah dan seluruh orang mukmin itu dijadikan dari padaku”.
Dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman . :
artinya :
“Pertama-tama yang dijadikan oleh Allah swt. adalah ruhku atau cahayaku”.

Dan selanjutnya Allah jualah yang menyempurnakan cahaya-Nya. Dan akhirnya Nur Muhammad saw. itu memancar ke segenap penjuru alam dunia ini pada cahaya (nur) yang Maha Esa, yang Maha Tunggal itu.

bersambung…..

MERIAHNYA PERINGATAN MAULID NABI SAW DI RUMAH KEDIAMAN GURU MURSYID DI MUARA TEWEH

Tepatnya pada hari Ahad malam Senin tanggal 18 Rabu’ul Awwal 1432 H bertepatan dengan tanggal 20 Pebruari 2011 telah diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di rumah Pengasuh Majelis Taklim Guru H.M.Mursyid Arsyad yang dilaksanakan oleh Jama’ah Majelis Taklim di bawah koordinator H.Ahmad Yani (Jenderal) dan Rahmat Alami (Abu Muhammad Samman Al-Gifari).
Acara tersebut telah dihadiri oleh Wakil Ketua Pengadilan Agama Muara Teweh, Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua MUI, Ketua Suriah NU dan segenap tokoh agama dan masyarakat serta ratusan Jama’ah Majelis Taklim dan para undangan baik pria maupun wanita.

Peringatan Maulid juga dimeriahkan oleh Grop Maulid Habsyi yang dipimpin Ustaz Zainudin dan Ustaz Firman dari Martapura.

Tambah lengkap lagi kemeriahannya dengan menggunakan 3 buah TV dan 1 buah layar lebar atas bantuan dari saudara H.Salahudin.

Tampil sebagai penceramah sengaja didatangkan dari luar daerah yaitu Al-Mukarram Habib Husaini bin Helmy Al-Kaaf dari Palembang.

Guru Mursyid dan Keluarga bersama Habib Husaini bin Helmy Al-Kaaf dari Palembang

Guru Mursyid bersama Habib Husaini bin Helmy Al-Kaaf dari Palembang

H.Muhammad dan keluarga bersama Habib Hisaini bin Hisaini Al-Kaaf dari Palembang

Guru Mursyid foto akrab dengan Habib Husaini Al-Kaaf


RASULULLAH SAW DAN SEBIJI BUAH LIMAU

Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu.

Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya.
Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira.

Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan,

“Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab tu saya habiskan semuanya.”

Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula.

Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa?

Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di’tewas’kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

SZ : Kalau kita? Benda tak sedap, dikongsi. Benda sedap, makan sembunyi